Ads 468x60px

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. (Al Hasan Al Bashri)
Tampilkan postingan dengan label TC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TC. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

TIGA HAK SAUDARA SEIMAN YANG SERING TERABAIKAN...

Al-Imam Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullah berkata,

ليكن حظُّ المؤمن منك ثلاثة: إنْ لم تنفعه فلا تضرَّه، وإنْ لم تُفرحه فلا تَغُمَّه، وإنْ لم تمدحه فلا تَذُمَّه...

Hendaklah seorang mukmin mendapatkan darimu 3 bagian:

1⃣ Apabila engkau tidak memberi manfaat kepadanya maka janganlah membahayakannya,

2⃣ Apabila engkau tidak membahagiakannya maka janganlah membuat ia sedih,

3⃣ Apabila engkau tidak memujinya maka janganlah mencelanya.

[Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam libni Rajab rahimahullah, 2/283]

Minggu, 29 Januari 2017

Pelopor kebaikan

✊ Pelopor kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻓَﻌُﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻰْﺀٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻰ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِّﺌَﺔً ﻓَﻌُﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﺜْﻞُ ﻭِﺯْﺭِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻰْﺀٌ
“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

Bentuk pengajaran ilmu yang bisa diberikan ada dua macam:
1⃣ Dengan lisan seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.

2⃣ Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dengan menjadi qudwah hasanah , memberi contoh kebaikan.
Khusus dakwah dengan qudwah hasanah , yaitu langsung memberikan teladan, maka jika ada orang yang mengikuti suatu amalan atau meninggalkan suatu amalan karena mencontoh kita, itu sama saja dengan bentuk dakwah pada mereka.

~~~~~~~~~~
smstc.blogspot.com

Jumat, 16 Desember 2016

Hikmah Dibalik Musibah

Saudaraku yang semoga selalu dirahmati Allah Ta'alaa..

Sebuah hiburan untuk Anda yang sedang tertimpa musibah. Mari kita simak perkataan yang indah dari Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullāh, ".....terkadang, anugrah Allāh turunkan bagi seorang hamba dalam bentuk musibah dan Allāh telah memberikan contoh dalam Al Quran."

Contoh yang dimaksud ialah kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam.

Nabi Yusuf 'alaihissalam, bagaimana dia bisa menjadi seorang Al Aziz, seorang menteri yang mulia di negeri Mesir? Jawabnya, ialah setelah melalui berbagai macam musibah.

Ternyata musibah-musibah yang datang beruntun tersebut merupakan anugrah dari Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, sehingga beliau bisa menjadi seorang menteri.

🔗 Musibah pertama, dipisahkan dari orangtuanya dimasukkan dalam sumur. Lalu, setelah itu ada orang menemukan Nabi Yusuf dalam sumur dan dikeluarkan.

🔗 Bukannya di selamatkan disuruh pulang ke rumah orang tuanya, ternyata dijadikan budak untuk dijual, musibah berikutnya.

🔗 Kemudian, setelah dia tinggal di Mesir, dirayu oleh permaisuri, akhirnya dituduh dan diapun di penjara, ini musibah berikutnya.

🔗 Kemudian, tatkala dia di penjara datang dua orang minta untuk ditafsirkan mimpinya. Salah satunya ditafsirkan akan dibunuh salah satunya ditafsirkan oleh Nabi Yusuf akan selamat.

Allāh Subhānahu wa Ta'ālā berfirman:

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu, tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya." (QS Yusuf 42).

Ini musibah berikutnya.

Maksud Nabi Yusuf apa?Yaitu, semoga tatkala orang ini menyebutkan kebaikan-kebaikan Nabi Yusuf maka sang raja akan membebaskan Nabi Yusuf dan dikembalikan kerumah orang tuanya.

Ternyata Allāh Subhānahu wa Ta'ālā menghendaki yang lain, Allāh menghendaki agar Nabi Yusuf menafsirkan mimpi sang raja ketika ditambah penjaranya bertahun-tahun tersebut.

Sang raja bermimpi:

إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ

"Saya telah melihat ada tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan tujuh ekor sapi yang kurus kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh lainnya yang kering." (QS Yusuf: 43).

Orang yang pernah ditafsirkan mimpinya oleh Nabi Yusuf baru ingat tentang Nabi Yusuf adalah seorang penafsir mimpi.

Kemudian dihadirkan Nabi Yusuf untuk menafsirkan mimpi sang raja.

Tatkala itu nampaklah kemuliaan Nabi Yusuf 'alaihissalam, akhirnya Nabi Yusuf diangkat menjadi seorang menteri.

Lihatlah, bagaimana  kemuliaan anugrah yang Allāh berikan kepada Nabi Yusuf, ternyata datang melalui berbagai macam musibah yang datang beruntun.

Di balik musibah bertahun-tahun tersebut ada karunia dan anugrah yang luar biasa, yaitu beliau diangkat menjadi seorang menteri.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Oleh karenanya, jika kita diberi musibah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, maka bersabarlah dan berhusnuzhan bahwasanya:

"Dibalik segala musibah tersebut pasti ada kebaikan, ada hikmah yang terkadang kita ketahui dan terkadang tidak kita ketahui."

Selalu kita meminta kesabaran kepada Alloh Ta'alaa...

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Sumber :
Telegram.me/TausiyahBimbinganIslam

Senin, 22 Juni 2015

Hadits palsu

TC:
Hati - hati Hadits PALSU..

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang keutamaan Shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    Di malam pertama, Orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.

    Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.

    Di malam ketiga, seorang malaikat berseru di bawah Arsy: ‘Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.’

    Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan.

    Di malam kelima, Allah Ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjid al-Haram, masjid Madinah, dan Masjid al-Aqsha.

    Di malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang ber-thawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.

    Di malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa ‘alaihissalam dan kemenangannya atas Firaun dan Haman.

    Di malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

    Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Di malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.

    Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.

    Di malam kedua belas, ia datang pada hari kiamat dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama.

    Di malam ketigabelas, ia datang di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.

    Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.

    Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para pemikul Arsy dan Kursi.

    Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.

    Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.

    Di malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, ‘Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.’

    Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajatnya dalam surga Firdaus.

    Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).

    Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya gedung dari cahaya.

    Di malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.

    Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.

    Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.

    Di malam kedua puluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.

    Di malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.

    Di malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.

    Di malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.

    Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.

    Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : ‘Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.’

Hadits ini disebutkan oleh Syaikh al-Khubawi dalam kitab Durrotun Nashihiin, hal. 16 – 17.

Berikut ini beberapa indikasi atas palsunya hadits tersebut:

    Pahala yang terlalu besar untuk amalan yang sederhana. Banyak keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam hadits di atas termasuk dalam kejanggalan jenis ini, misalkan pada lafadz “Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.”

    Bahkan, yang lebih parah adalah seseorang bisa mendapatkan pahala sebanding dengan pahala para Nabi (keutamaan shalat tarawih malam ke-17). Hal tersebut mustahil terjadi, karena sebanyak apapun amalan ibadah manusia biasa, tentu dia tidak akan mampu menyamai pahala Nabi. Nubuwah merupakan pilihan dari Allah semata. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Hajj [22] : 75) (Lihat al-Manaarul Muniif hal. 55 – 105, karya Ibnul Qoyyim rahimahullah.)

    Tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. Hadits tentang 30 keutamaan shalat tarawih di atas, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. DR. Lutfi Fathullah mengatakan, “Jika seseorang mencari hadits tersebut di kitab-kitab referensi hadits, niscaya tidak akan menemukannya.” Hal tersebut mengindikasikan bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu. (Lihat Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Kitab Durrotun Nashihiin, karya DR. Ahmad Luthfi Fathullah)
====
sumber: muslim.or.id

Jumat, 19 Juni 2015

Berkah dalam sahur

TC:
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).

Imam Nawawi berkata bahwa bentuk keberkahan makan sahur di antaranya adalah karena waktu itu orang bangun, ada dzikir dan do’a pada waktu mulia tersebut. Saat itu adalah waktu diturunkannya rahmat serta diterimanya doa dan istighfar. (Syarh Shahih Muslim, 9: 182)

Puasa wajib

TC:
Allah Ta’ala berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)
Hal ini dapat dilihat pula pada pertanyaan seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang badui ini datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berambut kusut, kemudian dia berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Beritahukan aku mengenai puasa yang Allah wajibkan padaku.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا
”(Puasa yang wajib bagimu adalah) puasa Ramadhan. Jika engkau menghendaki untuk melakukan puasa sunnah (maka lakukanlah).” (HR. Bukhari)
Dan kaum muslimin juga telah sepakat tentang wajibnya puasa ini dan sudah ma’lum minnad dini bidhoruroh yaitu seseorang akan kafir jika mengingkari wajibnya hal ini. Puasa ramadhan ini tidak gugur bagi orang yang telah dibebani syari’at kecuali apabila terdapat ‘udzur (halangan). Di antara ‘udzur sehingga mendapatkan keringanan dari agama ini untuk tidak berpuasa adalah orang yang sedang bepergian jauh (safar), sedang sakit, orang yang sudah berumur lanjut (tua renta) dan khusus bagi wanita apabila sedang dalam keadaan haidh, nifas, hamil atau menyusui (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, II/89, 118-127)

Rabu, 08 April 2015

Istighfar tiap pagi

TC:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ
.
“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari, pen) kecuali aku telah beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 1600. Lihat Al Mu’jam Al Awsath lith Thobroniy, 8/432, Asy Syamilah)

Selasa, 07 April 2015

Kekuasaan Allah tidak akan berkurang

TC:
Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
.
“Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari).
Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 48)

Selasa, 31 Maret 2015

Amalan mengantar ke syurga

TC:
Abu Hurairah berkata; aku berkata; "Wahai Rasulullah beritahu kepadaku tentang perkara jika aku mengerjakannya maka aku akan masuk syurga!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan kerjakanlah shalat malam ketika manusia sedang tidur, kemudian setelah itu masuklah syurga dalam keadaan selamat." (Musnad Ahmad 7591)
------
قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْبِئْنِي عَنْ أَمْرٍ إِذَا أَخَذْتُ بِهِ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَالَ أَفْشِ السَّلَامَ وَأَطْعِمْ الطَّعَامَ وَصِلْ الْأَرْحَامَ وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ثُمَّ ادْخُلْ الْجَنَّةَ بِسَلَام

Jumat, 27 Maret 2015

Tidak akan puas

TC:
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
.
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Hutang kita

TC:
Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita..
Dan kita mengetahui pula bahwa jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya..
Bahkan kalau kita mempekerjakan diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang..
Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit..

Sekarang coba bayangkan..
dalam setiap harinya, berapa banyak dosa yang kita lakukan..
Kita tidak pernah menghitungnya, kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung..
Sebagian tidak merasa berbuat dosa..
karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan..

Lepas dari semua itu, Allah ar Rahman ar Rahiim..
Yang Maha mengetahui dengan segala kekurangan hambanya..
telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah..
Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah..

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Jadi yang lagi sakit, pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya..
Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah..

Salah satu Ulama' salaf berkata:

لولا مصائب الدنيا لوردنا الآخرة مفلسين
.
"Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut".

Bagi akhi ukhti yang sedang dapat musibah..
Saatnya menjadikan musibah itu sebagai ladang pelunasan dosa..
Dengan menata hati..
Bersabar..
Meridhoi takdir ilahi..
Bersyukur kepada Rabbi..

Selamat mengamalkan..

Penulis: Ust. Dr. Syafiq Reza Basalamah, M.A

Balasan kesabaran

TC:
 عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا
.
Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho menjawab, “Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada Allah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdo’a pada Allah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.”  Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdo’alah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berdo’a pada Allah untuk wanita tersebut. (HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).

Ghibah itu apa?

TC:
Ghibah itu apa?
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).
Ghibah kata Imam Nawawi adalah menyebutkan kejelekan orang lain di saat ia tidak ada saat pembicaraan. (Syarh Shahih Muslim, 16: 129).
Dalam Al Adzkar (hal. 597), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melalui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.”
Bahkan dikatakan dalam Majma’ Al Anhar (2: 552), segala sesuatu yang ada maksud untuk mengghibah termasuk dalam ghibah dan hukumnya haram.

Akhlak modal dakwah

TC:
Akhlak luhur dan mulia sebenarnya adalah modal utama untuk membuat orang tertarik pada dakwah.
إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْن الْخُلُقِ
 “Sesungguhnya kalian tidak dapat menarik hati orang dengan harta kalian. Kalian hanya dapat membuat hati mereka tertarik dengan wajah berseri dan akhlak luhur kalian.”
(HR. Al Bazzar dalam musnadnya dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya)

Doa melihat petir

TC:
Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ
.
”Subhanalladzi sabbahat lahu” (Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan, ”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.” (Disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 722. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kamis, 26 Maret 2015

Akhlak mulia

TC:
Ahlus Sunnah itu mengagungkan akhlak. Inilah yang dinasehatkan oleh para ulama bahkan diletakkan dalam buku akidah mereka.
Simak perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah,
وَيَدْعُونَ إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ ، وَيَعْتَقِدُونَ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا » .وَيَنْدُبُونَ إِلَى أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ .وَيَأْمُرُونَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ ، وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَالرِّفْقِ بِالْمَمْلُوكِ .وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْفَخْرِ ، وَالْخُيَلَاءِ ، وَالْبَغْيِ ، وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى الْخَلْقِ بِحَقٍّ أَوْ بِغَيْرِ حَقٍّ .وَيَأْمُرُونَ بِمَعَالِي الْأَخْلَاقِ ، وَيَنْهَوْنَ عَنْ سَفْسَافِهَا .
“Ahlus Sunnah mengajak untuk berakhlak yang baik dan beramal yang baik. Ahlus Sunnah meyakini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaknya.”[1]
Ahlus Sunnah menganjurkan untuk menjalin hubungan yang telah terputus denganmu. Engkau diperintah untuk memberi makan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa. Engkau juga diperintah memaafkan orang yang menzhalimi engkau.
Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berbakti pada orang tua dan menjalin hubungan kerabat, juga berbuat baik kepada tetangga, begitu pula pada anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil (yang terputus perjalanan dan kehabisan bekal). Ahlus Sunnah juga memerintahkan berbuat baik pada budak.
Ahlus Sunnah melarang dari sifat berbangga diri dan sombong, juga melampaui batas. Ahlus Sunnah melarang merasa diri lebih mulia dari yang lain baik itu memang benar atau tidak.
Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berakhlak yang mulia dan melarang dari akhlak yang bejat (jelek). ” Demikian perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Jadi jika mengaku Ahlus Sunnah, berakhlaklah yang mulia. Jangan berakhlak bengis, kasar, dan bejat.
Hanya Allah yang memberi taufik.
--------
[1] HR. Ahmad 2: 250, Abu Daud no. 4682, Tirmidzi no. 1162, dari hadits Abu Hurairah.
http://rumaysho.com

Kanan dulu

TC:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُل
Dari 'Aisyah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan selainnya." (Shahih Bukhari: 163)

Cerdas

TC:
Dari Ibnu Umar bahwa dia berkata; Saya bersama dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar kepada beliau, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya; "Ya Rasulullah, bagaimanakah orang mukmin yang utama?" beliau menjawab: "Orang yang paling baik akhlaknya." Dia bertanya lagi; "Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling cerdas?" beliau menjawab: "Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang cerdas." (Sunan Ibnu Majah: 4249)
=====
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاس

Menggendong ibu

TC:
Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka'bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,
إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ -
إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ
Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ
Orang itu lalu berkata, "Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?" Ibnu Umar menjawab, "Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan."
(Adabul Mufrod no. 11. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad)

Jalan yang mudah

TC:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اعملوا فكل ميسر لما خلق له أما من كان من أهل السعادة فييسر لعمل أهل السعادة وأما من كان من أهل الشقاء فييسر لعمل أهل الشقاوة ثم قرأ   فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى   الآية

“Beramallah  maka masing-masing orang akan dimudahkan kepada apa yang telah digariskan untuknya, adapun barangsiapa yang termasuk orang-orang yang berbahagia maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amalan-amalan orang-orang yang berbahagia (penduduk surga) dan adapun barangsiapa yang termasuk orang-orang yang celaka maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang yang celaka (penduduk neraka)”, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah

فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (QS. 92:5-10)
(Shahih Adabul Mufrod, sebagaimana dinukil oleh Abdullah bin Abdirrahman As-Sa’d dalam risalahnya “Birrul walidaini” hal 56)